Cup of Excellence Indonesia 2026: Public Cupping di HomageMakes Bandung
Mencicipi Kopi Terbaik Indonesia: Cup of Excellence Indonesia 2026 di HomageMakes

Pada Sabtu, 31 Oktober 2026, kami mengadakan sesi cupping publik gratis di HomageMakes, Bandung. Kopi yang kami sajikan adalah kopi-kopi yang terpilih untuk sesi cupping Top 10 pada babak internasional Cup of Excellence Indonesia 2026. Kopi-kopi ini menggunakan sampel yang sebelumnya telah di-roasting dan dicupping oleh juri internasional pada International Round 2.
Siapa pun bisa datang, duduk di meja cupping, dan mencicipi beberapa kopi terbaik yang tumbuh di Indonesia tahun ini secara berdampingan. Dan ternyata banyak sekali yang datang! Rasanya luar biasa melihat begitu banyak orang memenuhi ruang kecil di lantai satu kami. Untuk kalian yang hadir, TERIMA KASIH BANYAK! Kami juga ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan keterbatasan ruang yang kami miliki.
Kopi dari lot-lot ini akan segera dilelang melalui lelang online internasional, sering kali dengan harga yang membuatnya sulit dijangkau oleh roaster, kafe, bahkan petani lokal yang menanamnya sendiri. Untuk satu sore, kami ingin membawa kopi-kopi ini sedikit lebih dekat dengan rumah. Setelah sesi cupping, kami juga mengadakan sesi sharing singkat bersama Andi Widjaja, country coordinator Cup of Excellence Indonesia tahun ini, yang menjelaskan bagaimana program ini sebenarnya berjalan.
Apa itu Cup of Excellence?
Cup of Excellence (COE) adalah kompetisi dan lelang green coffee yang diselenggarakan oleh Alliance for Coffee Excellence (ACE), sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat. Program ini dimulai di Brasil pada 1999. Setiap negara peserta mengadakan kompetisinya sendiri, di mana petani mengirimkan lot kopi terbaik mereka untuk dinilai secara blind cupping oleh panel juri. Nama petani tidak diketahui juri sampai pengumuman pemenang, sehingga kopi dari petani kecil dinilai berdampingan dengan kopi lainnya dan murni berdasarkan apa yang ada di dalam cangkir.
Menurut halaman resmi ACE untuk Indonesia 2026, setiap kompetisi melalui enam ronde blind cupping dalam dua tahap:
- Juri nasional yang terdiri dari para cupper Indonesia mencicipi seluruh peserta pada ronde pertama, kemudian menyaringnya menjadi 150 lot terbaik, 90 lot terbaik, dan akhirnya 40 lot terbaik. Setiap lot harus mendapatkan minimal 86 poin untuk bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
- Juri internasional yang terdiri dari 16 hingga 24 cupper profesional dari berbagai negara datang ke negara penyelenggara untuk menilai 40 lot tersebut.
- Kopi dengan nilai 87 atau lebih mendapatkan gelar Cup of Excellence. Sepuluh lot terbaik kemudian dicupping sekali lagi untuk menentukan peringkat akhirnya. Kopi dengan nilai 90 atau lebih mendapatkan Presidential Award.
Pada akhir proses, setiap lot pemenang sudah dicupping setidaknya lima kali. Kopi-kopi pemenang kemudian dijual melalui lelang online yang terbuka bagi pembeli terdaftar dari seluruh dunia, dan setiap harga akhir lelang dipublikasikan. ACE menjelaskan bahwa transparansi harga ini merupakan salah satu cara untuk mendorong keterbukaan harga dan premi yang dibayarkan kepada petani.
Cup of Excellence Indonesia: sedikit sejarah
Indonesia adalah negara pertama di Asia yang menyelenggarakan kompetisi Cup of Excellence secara penuh. Setelah uji coba pada 2019 di Takengon, Aceh, yang diselenggarakan bersama Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) dan pemerintah daerah Aceh Tengah, kompetisi nasional pertama berlangsung pada 2021. Sebanyak 26 lot dari berbagai daerah di Indonesia mendapatkan nilai 87 poin atau lebih.
Lelang pertama tersebut menarik pembeli dari berbagai negara, dengan total transaksi lebih dari US$360.000 (sekitar Rp6,5 miliar). Ke-26 lot pemenang terjual dengan harga rata-rata hampir US$30 per pound, atau sekitar US$66 per kg (kurang lebih Rp540.000 per pound dan Rp1,2 juta per kg). Lot dengan harga tertinggi, kopi honey process dari Aceh, terjual seharga US$80 per pound kepada sebuah roastery Jepang. Nilainya setara dengan sekitar US$176 per kg, atau Rp1,44 juta per pound dan Rp3,2 juta per kg.
Angka rupiah dalam artikel ini menggunakan kurs sekitar Rp18.000 per US$1. Pada tahun yang sama, penyelenggara juga menyoroti salah satu pembeli domestik, Kopikina, yang membeli kopi Typica washed dari Jawa Barat.
Indonesia kembali menyelenggarakan COE pada 2022 dan 2023. Setelah jeda, kompetisi ini kembali hadir pada 2026, sebagaimana tercatat dalam arsip hasil kompetisi ACE.
Berapa biaya untuk menyelenggarakan COE di Indonesia?
COE merupakan program berlisensi. ACE adalah pemilik kompetisi ini, sementara lisensi penyelenggaraan di Indonesia dipegang oleh AKSI, Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia (Specialty Coffee Association of Indonesia atau SCAI).
Setiap tahun, AKSI membayar biaya lisensi untuk menyelenggarakan kompetisi di Indonesia, sekaligus menanggung biaya operasional penyelenggaraan di dalam negeri. Dalam sesi sharing kami, Andi menyampaikan bahwa total biaya penyelenggaraan program ini diperkirakan sekitar US$250.000 (sekitar Rp4,5 miliar) per tahun. Anggaran dan keseluruhan pengeluaran COE Indonesia tahun ini berada dalam kisaran tersebut. Biaya ini mencakup kebutuhan juri internasional, sewa tempat, gudang untuk menerima dan menyimpan seluruh lot, dan berbagai kebutuhan lainnya.
ACE juga menjelaskan bahwa sebagian hasil lelang dikembalikan kepada negara penyelenggara dalam bentuk organizing country commission untuk membantu menutup biaya operasional tersebut. Di Indonesia, program ini masih sekitar 80% didanai oleh pihak swasta, dengan dukungan pemerintah yang sangat terbatas, bahkan hampir tidak ada. Karena itu, keberlangsungan program ini sangat bergantung pada dukungan dan sponsor dari pihak-pihak yang ingin kopi Indonesia semakin dikenal.
COE Indonesia 2026 dalam angka
Berdasarkan data yang dibagikan oleh @cupofexcellence.indonesia dan AKSI SCAI, kompetisi tahun ini menerima 119 lot dari 10 provinsi, dengan total berat 54.758 pound atau sekitar 24.800 kg green coffee. Artinya, rata-rata setiap lot memiliki berat sekitar 460 pound atau sedikit lebih dari 200 kg.
| Provinsi | Jumlah lot | Persentase peserta |
|---|---|---|
| Jawa Barat | 42 | 35% |
| Aceh | 33 | 28% |
| Jawa Timur | 11 | 9% |
| Jambi | 8 | 7% |
| Sulawesi Selatan | 8 | 7% |
| Bali | 6 | 5% |
| Jawa Tengah | 5 | 4% |
| Sumatera Utara | 3 | 3% |
| Sumatera Selatan | 2 | 2% |
| Sumatera Barat | 1 | 1% |
Ada beberapa hal yang cukup menarik dari angka-angka ini:
- Dua provinsi mendominasi jumlah peserta. Jawa Barat dan Aceh mengirimkan total 75 dari 119 lot, atau sekitar 63% dari seluruh peserta. Secara keseluruhan, Pulau Jawa mengirimkan 58 lot dan Sumatera 47 lot.
- Hasil kompetisi sebagian besar mengikuti jumlah peserta. Dua provinsi tersebut juga menyumbang sembilan dari sepuluh lot terbaik: lima dari Jawa Barat dan empat dari Aceh, sementara Bali melengkapi daftar Top 10. Pangalengan, yang berada di dataran tinggi sebelah selatan Bandung, bahkan berhasil menempatkan tiga lot sekaligus di Top 10.
- Sekitar satu dari lima peserta berhasil menjadi pemenang. Sebanyak 24 dari 119 lot mendapatkan gelar Cup of Excellence, atau sekitar 20%. Berdasarkan provinsi, Bali memiliki tingkat keberhasilan tertinggi dengan tiga dari enam lot (50%) menjadi pemenang, disusul Jawa Barat dengan 11 dari 42 lot (26%) dan Aceh dengan delapan dari 33 lot (24%). Jawa Tengah dan Jambi masing-masing mendapatkan satu lot pemenang, sementara peserta dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan tiga provinsi Sumatera dengan jumlah peserta lebih sedikit tidak masuk daftar pemenang tahun ini.
- Metode proses pascapanen semakin beragam. Experimental processing menjadi kategori terbesar dengan 52,1% dari seluruh peserta, disusul natural (19,3%), washed dry-hulled (10,9%), honey (10,1%), dan washed wet-hulled (7,6%). Experimental processing juga menyumbang setengah dari Top 10, termasuk peringkat pertama.
- Giling basah tetap punya tempat. Giling basah, metode proses tradisional yang banyak ditemukan di Sumatera, menjadi kategori dengan jumlah peserta paling sedikit. Namun, satu kopi wet-hulled dari Aceh Tengah berhasil meraih peringkat kedua dengan nilai Presidential Award sebesar 90,10.
- Varietas kopi yang cukup beragam. Penyelenggara mencatat lebih dari 23 varietas. Yang paling banyak ditemukan adalah Ateng (19,1%), S-795 (11,5%), Typica (10,5%), Timor Hybrid (9,2%), dan Sigararutang (8,9%). Selain itu, terdapat juga Andungsari, Bourbon, Catimor, Kartika, Caturra, P88, USDA 762, Komasti, Cobra, Java, Sidra, Catuai, Borbor, dan Jember.
Cupping publik di HomageMakes
Rangkaian International Jury untuk COE Indonesia 2026 berlangsung pada 19–23 Oktober, dengan pengumuman pemenang pada 22 Oktober. Seminggu setelahnya, kami membawa kopi-kopi yang terpilih untuk sesi cupping Top 10 pada babak internasional ke meja cupping kami di Jalan Kartini 5A. Kopi yang digunakan adalah kopi yang sama dengan yang telah di-roasting dan dicupping oleh juri internasional selama International Round 2.
Acara ini terbuka untuk umum dan sepenuhnya gratis. Sesi ini sekaligus menggantikan jadwal cupping publik gratis bulanan kami. Kami memperkirakan sekitar 40–50 orang memenuhi ruangan, mulai dari pecinta kopi, salah satu anggota juri nasional, hingga beberapa petani.
Suasana sore itu terasa luar biasa. Dalam banyak hal, rasanya seperti reuni. Industri kopi Indonesia memang tidak terlalu besar, dan ada begitu banyak wajah familiar yang hadir. Ruangan yang penuh dan meja kami yang kecil-kecil memang cukup menjadi tantangan, tetapi kami beruntung semua orang datang dengan semangat berbagi, kebersamaan, dan komunitas. Kami sangat berterima kasih atas pengertian dan keramahan semua tamu sepanjang acara.
Kami mencicipi kopi-kopi tersebut bersama dua kopi dari Publish Coffee Roasters yang biasa kami sajikan, untuk memberi sedikit konteks tentang seperti apa kopi Indonesia yang “biasa” atau yang kita nikmati sehari-hari jika dibandingkan dengan yang terbaik dari yang terbaik.
Dari sepuluh kopi tersebut, tiga merupakan kopi washed atau honey process, satu giling basah (gilbas), dan enam natural. Kami mencicipi kopi washed dan gilbas pada flight pertama, kemudian dilanjutkan dengan enam kopi natural. Kopi-kopi tersebut tidak dicupping berdasarkan urutan peringkat. Semua sampel diberi kode, dan peringkatnya baru diumumkan di akhir acara, tepat sebelum para tamu pulang.
Soal kopinya sendiri: memang terasa ada peningkatan kualitas dan intensitas yang cukup jelas jika dibandingkan dengan kopi pembanding kami. Namun, jaraknya tidak terasa begitu jauh sampai seolah mustahil untuk dikejar. Justru kami jadi bertanya-tanya, seberapa cepat kita bisa menghasilkan sesuatu yang bahkan lebih baik dari ini?
10 besar COE Indonesia 2026
Hasil resmi kompetisi sudah dipublikasikan di halaman Indonesia 2026 milik ACE. Tahun ini, 24 lot berhasil mendapatkan gelar Cup of Excellence, dan dua peringkat teratas meraih nilai di atas 90 poin sehingga mendapatkan Presidential Award.
Jawa Barat, khususnya dataran tinggi Bandung, mencatatkan hasil yang sangat baik tahun ini. Kopi-kopi yang kami cicipi di acara kami adalah lot-lot yang terpilih untuk sesi cupping Top 10 pada babak internasional, menggunakan kopi yang telah di-roasting dan dicupping oleh juri internasional selama International Round 2. Peringkat akhir ditentukan setelahnya, sehingga urutan di bawah ini mungkin berbeda dari urutan kopi yang kami cicipi saat acara.
| Peringkat | Nilai | Petani | Daerah | Proses |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 90.25 | Edward Ken Tirtadarma (Ating Hermawan) | Sindangkerta, Bandung Barat | Experimental washed/honey |
| 2 | 90.10 | Iwannitosa Putra | Bebesen, Aceh Tengah | Wet hull |
| 3 | 89.70 | Haditya Pamungkas | Pangalengan, Bandung | Experimental natural |
| 4 | 89.70 | Diki Wahyudin | Pangalengan, Bandung | Experimental natural |
| 5 | 89.65 | Iriyani (Bukit Sama Farm) | Kebayakan, Aceh Tengah | Washed/honey |
| 6 | 89.20 | Eka Teguh Kurniawan (Finca Don Obar) | Cisurupan, Garut | Experimental natural |
| 7 | 89.15 | Mustakim | Pegasing, Aceh Tengah | Natural |
| 8 | 89.00 | Rynaldho Maulana Rizqi | Pangalengan, Bandung | Experimental natural |
| 9 | 88.70 | Ririn Marlisa | Kebayakan, Aceh Tengah | Natural |
| 10 | 87.85 | Kevin Jonathan | Kintamani, Bangli | Natural |
Selamat kepada seluruh petani yang masuk dalam daftar ini, dan juga kepada semua peserta yang telah mengikuti kompetisi. Bisa membawa satu lot sampai ke meja penjurian saja sudah merupakan hasil dari kerja dan perhatian selama bertahun-tahun.
Berapa penghasilan yang bisa didapat petani pemenang?
Formulir pendaftaran resmi COE Indonesia 2026 yang dibagikan oleh AKSI SCAI menjelaskan beberapa ketentuan mengenai pendaftaran lot dan bagaimana hasil lelang diterima oleh petani:
- Ukuran lot: 180–600 kg green coffee siap ekspor, berasal dari satu kebun atau gabungan maksimal tiga kebun dalam kecamatan yang sama, dan menggunakan satu metode proses pascapanen.
- Biaya pendaftaran: lot pertama dari setiap peserta gratis. Lot kedua, yang berasal dari kebun atau metode proses berbeda, dikenakan biaya Rp3.500.000 (sekitar US$195). Koperasi dan kelompok tani dapat mendaftarkan hingga tiga lot: lot pertama gratis, sedangkan dua lot berikutnya masing-masing dikenakan biaya Rp3.500.000.
- Kopi yang digunakan selama kompetisi: sekitar 10 kg dari setiap lot digunakan untuk penjurian dan sekitar 20 kg untuk sampel calon pembeli. Artinya, kurang lebih 30 kg dari setiap lot tidak ikut terjual.
- Komisi: AKSI mengambil komisi dari hasil lelang untuk membantu membiayai penyelenggaraan program. Besarnya adalah 15% untuk harga US$5,50–6,50 per pound, 20% untuk US$6,50–10,50, dan 25% untuk harga di atas US$10,50. Andi juga menyampaikan bahwa tidak semua negara penyelenggara mengambil komisi ini. Beberapa penyelenggara memilih untuk tidak mengambilnya meskipun sebenarnya berhak.
- Biaya ekspor: petani menanggung biaya dokumen ekspor seperti sertifikat phytosanitary, certificate of origin, registrasi FDA, dan pengujian isoprocarb, termasuk biaya pengemasan lot dan pengiriman sampel.
- Pembayaran: hasil lelang dibayarkan melalui eksportir yang ditunjuk, langsung ke rekening bank atas nama produsen yang terdaftar.
Untuk memberi gambaran kasar, berikut simulasi sederhana untuk satu lot berukuran 300 kg. Setelah dikurangi kopi untuk penjurian dan sampel, sekitar 270 kg atau 595 pound tersisa untuk dijual. Simulasi ini menggunakan persentase komisi sesuai dengan tingkat harga lelangnya.
| Harga lelang | Penjualan kotor | Setelah komisi | Dalam rupiah |
|---|---|---|---|
| US$10 per pound | US$5.950 | US$4.760 (20%) | sekitar Rp85,7 juta |
| US$30 per pound (rata-rata 2021) | US$17.860 | US$13.390 (25%) | sekitar Rp241 juta |
| US$80 per pound (lot tertinggi 2021) | US$47.620 | US$35.710 (25%) | sekitar Rp643 juta |
Dengan harga US$30 per pound, nilainya setara dengan sekitar US$50 per kg green coffee atau kurang lebih Rp893.000 per kg sebelum dikurangi biaya ekspor. Angka-angka ini tentu hanya ilustrasi. Hasil sebenarnya akan bergantung pada ukuran lot akhir, harga yang terbentuk saat lelang, dan biaya ekspor. Simulasi komisi yang lebih terperinci tersedia dalam panduan resmi peserta.
Sesi sharing bersama country coordinator
Setelah cupping, kami mengajak semua orang masuk ke ruangan yang kecil, penuh, dan cukup hangat untuk sesi sharing bersama Andi Widjaja, country coordinator COE Indonesia 2026. Andi memperkenalkan program ini kepada para peserta, menjelaskan biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakannya di Indonesia, dan menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin.
Setelah acara, Andi juga berbaik hati menjawab beberapa pertanyaan tambahan melalui pesan. Jawaban di bawah ini telah diterjemahkan dari bahasa Indonesia dan sedikit diringkas agar lebih mudah dibaca.
Bagaimana COE Indonesia menjangkau petani?
Sebelum kompetisi tahun ini, tim penyelenggara mengadakan sosialisasi di Bandung, Garut, Temanggung, Malang, Kerinci, Samosir, dan Gayo. Mereka menjelaskan cara mengikuti COE 2026, membahas peraturan dan panduan COE secara terperinci, termasuk proses pendaftaran, jumlah lot yang boleh didaftarkan, serta perhitungan biaya yang perlu disiapkan.
Apakah petani mendapatkan masukan atas kopi yang mereka kirimkan?
Ya. Lembar penilaian atau score sheet dibagikan kepada peserta, terutama bagi lot yang tidak lolos ke tahap berikutnya. Dengan begitu, petani bisa melihat bagaimana kopi mereka dinilai dan bagian mana yang masih bisa diperbaiki.
Apa saran Andi untuk petani yang ingin mengikuti kompetisi tahun depan?
Persiapkan semuanya dari kebun. Kopi yang sudah memiliki kualitas baik sejak dari kebun, bahkan dengan proses pascapanen yang sederhana, tetap bisa menghasilkan kualitas cangkir yang baik. Andi juga menyarankan petani untuk mempelajari formulir penilaian cupping COE dan memahami bahwa juri mencari kopi yang clean dan sweet. Dua karakter tersebut berawal dari bahan baku yang baik.
Apa nilai penting dari kompetisi seperti COE?
Bagi petani, kompetisi ini merupakan kesempatan untuk mempelajari good agricultural practices (GAP), memperluas jaringan, dan membuka peluang baru. Bagi industri kopi secara keseluruhan, kualitas yang baik di hulu akan membantu meningkatkan kualitas di sepanjang rantai pasok. Konsumen juga menjadi lebih teredukasi dalam prosesnya.
Apakah pemerintah Indonesia mendukung penyelenggaraan COE?
Menurut Andi, dukungan pemerintah masih sangat terbatas. Bank Indonesia pernah mendukung program ini, tetapi sifatnya hanya sebagai sponsor jangka pendek dan tidak mencakup biaya lisensi. Dukungan berupa sponsor dana tunai juga terbatas tahun ini. Andi memperkirakan sekitar 80% biaya program masih berasal dari pihak swasta.
Apakah akan ada sesi cupping publik COE lainnya di Indonesia?
Beberapa sesi tambahan sedang direncanakan, meskipun detailnya belum bisa dibagikan. Andi juga menjelaskan mengapa sesi cupping seperti ini memiliki keterbatasan.
Green coffee yang disimpan di gudang masih merupakan milik petani peserta. Karena itu, tim berusaha untuk tidak menggunakan terlalu banyak kopi untuk sesi cupping dan memaksimalkan kopi yang sudah di-roasting. Prioritas mereka saat ini adalah menjaga sebanyak mungkin kopi dari setiap lot agar tetap tersedia untuk dilelang.
Setiap lot untuk penjurian di-roasting dalam batch 700 gram. Setelah rangkaian penjurian selesai, memang ada cukup banyak kopi roasted yang tersisa, tetapi tidak semuanya masih berada dalam kondisi yang cukup baik untuk dicupping. Andi juga menyebutkan bahwa ada sesi cupping mendatang yang mungkin bisa diikuti oleh para produsen. Cara terbaik untuk mendapatkan informasi terbaru adalah dengan mengikuti @cupofexcellence.indonesia di Instagram.
Bagaimana kafe dan roastery lokal bisa membantu?
Jawaban Andi cukup sederhana: beli kopi-kopinya atau ikut menawar dalam lelang.
Kami sangat berterima kasih kepada Andi atas waktu yang diberikan, baik pada hari acara maupun setelahnya, serta kepada semua orang yang sudah meluangkan waktu untuk hadir, mendengarkan, dan bertanya.
Apa yang bisa dan tidak bisa kita simpulkan dari peringkat COE?
Kami senang bisa merayakan kopi-kopi ini, tetapi kami juga ingin jujur mengenai apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh daftar pemenang COE. Kopi yang menang adalah kopi terbaik dari seluruh kopi yang didaftarkan tahun ini. Masih banyak kopi Indonesia yang luar biasa dan tidak pernah sampai ke meja kompetisi, karena berbagai alasan yang tidak selalu berkaitan dengan kualitasnya.
Beberapa keterbatasan tersebut berasal dari aturan kompetisi itu sendiri:
- Hanya Arabika. Indonesia juga menghasilkan banyak Robusta dan sebagian Liberika, tetapi keduanya tidak bisa mengikuti kompetisi ini.
- Minimal 180 kg. Setiap lot harus memiliki minimal 180 kg green coffee siap ekspor, dari satu metode proses pascapanen, dan berasal dari satu kebun atau maksimal tiga kebun dalam kecamatan yang sama. Bagi petani kecil dengan lahan terbatas, mengumpulkan kopi sebanyak itu dengan kualitas yang konsisten bisa menjadi tantangan.
- Standar fisik yang ketat. Kadar air harus berada di rentang 10–12%, aktivitas air maksimal 0,65 aw, tidak boleh ada cacat primer, dan maksimal lima cacat sekunder dalam sampel 350 gram. Memenuhi standar ini membutuhkan proses pengeringan dan sortasi yang baik, yang belum tentu bisa diakses oleh semua kebun.
- Administrasi. Produsen perlu memiliki KTP, rekening bank atas nama sendiri, bukti kepemilikan atau hak pengelolaan lahan, serta koordinat kebun. Untuk kebun yang berada di atas tanah adat, peserta dapat menggunakan surat keterangan dari aparat pemerintahan terdekat, misalnya kepala desa, sebagai alternatif dokumen formal kepemilikan lahan.
- Biaya dan risiko. Sekitar 30 kg dari setiap lot digunakan untuk penjurian dan sampel. Pengiriman kopi ke gudang di Bandung menjadi risiko produsen, begitu juga biaya ekspor yang harus ditanggung sendiri. Lot yang tidak lolos juga perlu diambil atau dikirim kembali dengan biaya dari peserta.
- Jendela waktu pendaftaran. Lot harus tiba antara 10 Agustus dan 22 September, sementara kalender panen berbeda-beda di setiap daerah. Ada kebun yang mungkin belum siap pada periode tersebut atau mengalami keterlambatan panen akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Ada juga alasan lain yang lebih sederhana. Banyak petani sudah memiliki pembeli tetap dan tidak membutuhkan lelang. Sebagian mungkin belum mengetahui keberadaan kompetisi ini. Selain itu, sebuah nilai cupping hanya merupakan gambaran dari satu kali panen, yang dinilai oleh satu kelompok juri dengan satu protokol penilaian tertentu yang mengutamakan karakter clean dan sweet.
Sebagai contoh, tahun ini tidak ada peserta dari daerah yang sudah dikenal sebagai penghasil kopi seperti Flores atau Papua.
Karena itu, kami melihat daftar COE sebagai salah satu jendela yang menarik untuk melihat kualitas kopi Indonesia, tetapi tentu bukan satu-satunya. Kami berharap bisa terus mencicipi dan membagikan kopi-kopi hebat yang tidak pernah masuk ke dalam kompetisi sekalipun.
Kenapa kami mengadakan sesi cupping ini?
Kopi COE merupakan sebagian dari kopi terbaik yang dihasilkan Indonesia, dan sebagian besar akan meninggalkan Indonesia setelah dilelang. Harga lot pemenang biasanya mencapai puluhan dolar per pound, atau ratusan ribu rupiah bahkan lebih untuk setiap pound. Pada 2021, kopi juara Indonesia terjual seharga US$80 per pound, setara dengan sekitar US$176 atau Rp3,2 juta per kg.
Dengan harga seperti itu, banyak petani yang menanam kopi tersebut mungkin tidak pernah berkesempatan mencicipi hasil panen mereka sendiri setelah di-roasting dan diseduh dengan baik. Sementara itu, roastery dan kafe kecil di Indonesia juga jarang memiliki kesempatan untuk membeli kopi-kopi seperti ini.
Kami ingin membawa sebagian pengalaman itu kembali ke orang-orang yang paling dekat dengan kopi Indonesia, secara gratis, sekaligus mendorong agar kopi Indonesia bisa dinikmati di dalam negeri sebanyak kopi kita dinikmati di luar negeri. Ini juga merupakan salah satu alasan HomageMakes ada: membuat kopi yang baik terasa lebih terbuka, ramah, dan mudah dijangkau.
Kami juga berharap para produsen yang hadir bisa mendapatkan sesuatu dari sesi ini. Siapa pun yang membuat sesuatu pasti pernah merasakan pengalaman mencicipi sesuatu yang luar biasa lalu berpikir, Aku juga bisa membuat sesuatu seperti ini, atau mungkin bahkan lebih baik. Sebagai baker, barista, dan roaster, kami merasakan hal tersebut sepanjang waktu. Anggap saja sesi ini sebagai semacam sesi benchmarking.
Apa selanjutnya untuk COE Indonesia 2026?
Lelang Cup of Excellence Indonesia 2026 akan dibuka pada 1 Desember 2026 pukul 13.00 UTC atau 20.00 WIB.
Untuk mengikuti lelang, peserta perlu mendaftar melalui ACE. Ada dua pilihan pendaftaran: US$250 (sekitar Rp4,5 juta) untuk akses lelang saja, atau US$850 (sekitar Rp15,3 juta) termasuk sampel 150 gram dari setiap lot pemenang. Anggota ACE mendapatkan harga pendaftaran yang lebih rendah.
Untuk informasi terbaru mengenai sesi cupping berikutnya, ikuti @cupofexcellence.indonesia di Instagram.
Jika kamu adalah roaster atau pemilik kafe lokal yang tertarik mengikuti lelang, atau sekadar ingin tahu lebih banyak, silakan mampir ke HomageMakes dan menyapa kami. Kami selalu senang berbincang soal kopi, bertukar catatan, dan mendengar pengalaman cupping kalian.
Dan untuk para produsen yang sudah hadir, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk datang!
HomageMakes adalah specialty coffee bar dan bakery yang berlokasi di Jalan Kartini 5A, Bandung. Ikuti kami di Instagram untuk informasi cupping dan acara berikutnya.